Hari ini 12 Agustus 2020 akan dicatat oleh sejarah tidak hanya sebagai hari lahirnya Perkumpulan Pembudidaya dan Nelayan Lobster Indonesia

by Share Tweet
1.Fa bambang Penasehat
2.Kris budiharjo ketua penasehat
3.rahmat mony sekjen
4.samingin SE ketua umum
5 .dewi listianawati bendahara umum
6.Amir hamzah ketua dewan pembina.
Nama foto dari kiri ke kanan 1 – 6

Jakarta, 12 Agustus.InSeleb News — Kebangkitan nelayan Indonesia makin nyata, dengan lahirnya Perkumpulan Pembudidaya dan Nelayan Lobster Indonesia (PBNLI). Sebagaimana dikatakan Ketua Ketua umum PBNLI Samingin SE,
PBNLI yang mempunyai misi mewujudkan Kesejahteraan nelayan, turut mengatur Tata niaga penjualan benih lobster dan menjadikam Indonesia no 1 dalam budidaya lobster, akan merangkul semua nelayan di tanah air.
“Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Ya, bangsa pelaut dalam arti seluas-luasnya. Bukan sekadar menjadi jongos-jongos di kapal, bukan. Tetapi bangsa pelaut dalam arti kata cakrawati samudera. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri,” kata Samingin dalam Deklarasi dan Pengukuhan PBNLI di Jakarta, Rabu (12/8/2020).
Samingin menambahkan, saat kita memandang laut sebenarnya kita sedang memandang masa lalu, masa sekarang dan masa depan Indonesia.
“Patut kita syukuri saat ini masih ada nelayan yang menyibukan dirinya di laut sebagai upaya pemenuhan pangan bangsa sekaligus menjaga budaya leluhur. Sampai sekarang nelayanlah yang masih percaya, bahwa sumber kehidupan bangsa ini ada di laut, merekalah yang kawin dengan laut.

Sebagaimana bung karno mengamanat kan pada tahun 1953 silam,kita akan menjadi penerus bangsa pelaut.Mengingat peran pentingnya nelayan dalam menopang kehidupan berbangsa maka sudah seyogyanya pemerintah hadir untuk nelayan terkhusus nelayan kecil sebagaimana diamanatkan undang-undang,” katanya.
Tercatat, Penerbitan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2020 tentang pengelolaan lobster, kepiting, dan rajungan, menurut Samingin, adalah momen tepat untuk mengembangkan komoditas lobster yang sampai saat ini masih belum banyak dilakukan nelayan Indonesia.
Bahkan, Indonesia, menurut dia, tertinggal jauh dibandingkan Vietnam yang sudah menjadi produsen utama dunia. Padahal selama ini bangsa kita dikenal sebagai penghasil lobster terbaik di dunia.
Karena itulah Perkumpulan Pembudidaya dan Nelayan Lobster Indonesia dideklarasikan, untuk meraih kembali kebanggaan sebagai negara penghasil lobster nomor satu di dunia.
PBNLI akan menumbuh kembangkan semangat pembudidayaan lobster baik di laut maupun di darat yang akhirnya bermuara pada meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan nelayan lobster. “Selain itu, kita akan menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara penghasil lobster nomor satu di dunia,” kata Samingin lagi.

Pada tahun 2020 ini, produksi ditargetkan mencapai 18,44 juta ton dan naik menjadi 22,65 juta ton pada 2024 mendatang.

PBNLI mengklaim anggota mereka ribuan jumlahnya. Yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai Pulau Rote. Bahkan yang berada di pulau-pulau terdepan dan terpencil di seantero Nusantara.
PBNLI Dan jajaran pengurus akan memberikan edukasi tentang penangkapan lobster maupun benih bening yang berkelanjutan dan memperhatikan dampak lingkungan maupun sosial kemasyarakatan. Serta mendorong terjalinnya kerjasama nelayan dengan pengusaha dan pembudidaya lobter.
Mendorong adanya regulasi pemerintah yang dapat memberikan kepastian berusaha dan meningkatkan kesejahteraan bagi nelayan dan pembudidaya lobster.
Mendorong ekspor lobster dengan membuka pasar baru di dunia dan kualitas produksi lobster.
“PBNLI siap mendatangkan tenaga ahli dari Vietnam untuk berbagi pengetahuan dalam meningkatkan kualitas budidaya lobster di Indonesi,” katanya lagi.

Dari catatan Organisasi Pangan dan Agrikultur Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) yang dirilis pada 2019, produksi Lobster dunia tumbuh rerata 2,30 persen per tahun. Sedangkan, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2019, nilai ekspor lobster pada periode 2014-2018 mengalami pertumbuhan rerata 20,42 persen per tahun.

Dari lima lobster yang ada di wilayah perairan Indonesia, tercatat lobster mutiara dan lobster pasir menjadi lobster yang potensial untuk dikembangkan melalui sistem budi daya perikanan yang ada.
Bahkan berdasarkan kajian BRSDM KP, hasilnya diketahui ada potensi yang sangat besar untuk jenis lobster mutiara dan lobster pasir ini. Kedua jenis lobster ini potensinya mencapai 278.950.000 ekor dan tersebar di 11 wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia.
Agar bisa mewujudkan pengelolaan sumber daya lobster yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, regulasi tata kelola sumber daya perikanan lobster perlu diterapkan untuk memperkuat tata kelola benih lobster.
“PBNLI akan menjadi mitra strategis pemerintah sekaligus memperjuangkan adanya regulasi peraturan yang adil, stabilitas harga lobster di pasar, terjaminnya sumber pendapatan dan kesejahteraan nelayan pembudidaya lobster sekaligus keberlanjutan bagi alam,” pungkas Samingin. 

Melalui penerbitan peraturan menteri kelautan dan perikanan no.12 tahun 2020 tentang pengelolaan lobster,kepiting dan rajungan,adalah tepat untuk mengembang kan komunitas lobster yang sampai saat ini masih banyak dilakukan nelayan Indonesia.

Sallam Lobster

Wassallamualaikum w.w.

Jakarta 12 agustus 2020.